Langsung ke konten utama

Etika Jual Beli

Jual beli memiliki beberapa etika, yakni sebagai berikut.

  1. Tidak boleh berlebihan dalam mengambil keuntungan.

Jual beli yang berlebihan itu dilarang dalam semua agama, karena itu termasuk penipuan yang diharamkan. Namun, penipuan kecil yang tidak bisa dihindari oleh seseorang adalah sesuatu yang boleh. Sebab, kalau dilarang maka tidak akan terjadi transaksi jual beli, karena biasanya jual beli tidak bisa terlepas dari unsur penipuan. Jual beli yang mengandung unsur penipuan yang berlebihan. Jika bisa dihindari maka harus dihindari. Ulama Malikiah menentukan batas peni-puan yang berlebihan itu adalah 1/3 ke atas, karena jumlah itulah batas maksimal yang dibolehkan dalam wasiat dan selainnya. Keuntungan yang baik dan berberkah adalah keuntungan 1/3 ke atas.

  1. Berinteraksi yang jujur

Menggambarkan barang dagangan dengan sebetulnya tanpa ada unsur kebohongan ketika menjelaskan macam, jenis, sumber dan biaya.

  1. Bersikap toleran dalam berinteraksi

Penjual bersikap mudah dalam menentukan harga dengan cara menguranginya, begitu pula pembeli tidak terlalu keras dalam menentukan syarat-syarat penjualan dan memberikan harga lebih.

  1. Menghindari sumpah meskipun pedagang

Dianjurkan untuk menghindari sumpah dengan nama Allah dalam jual beli, karena itu termasuk cobaan bagi nama Allah.

  1. Memperbanyak sedekah

Disunnahkan bagi seorang pedagang untuk memperbanyak sedekah sebagai penebus dari sumpah, penipuan, penyembunyian cacat barang, melakukan penipuan dalam harga, ataupun akhlak yang buruk, dan sebagainya. 

  1. Mencatat utang dan mempersaksikannya.

Dianjurkan untuk mencatat transaksi dan jumlah utang, begitu juga mempersaksikan jual beli yang akan dibayar di belakang dan catatan utang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayat-Ayat Al-Quran tentang Teknologi Modern: Menggali Hikmah dan Panduan dalam Era Digital

Dalam era modern ini, perkembangan teknologi telah membawa dampak signifikan pada kehidupan manusia. Teknologi modern seperti internet, smartphone, dan media sosial telah merubah cara kita berkomunikasi, bekerja, dan berinteraksi. Dalam menghadapi tantangan dan manfaat yang ditawarkan oleh teknologi modern, banyak orang mencari panduan moral dan etika dalam ajaran agama. Al-Quran, sebagai kitab suci umat Islam, memiliki hikmah dan pedoman yang dapat diterapkan dalam konteks teknologi modern. Dalam narasi ini, kami akan menggali ayat-ayat Al-Quran yang relevan dengan teknologi modern dan menguraikan hikmah serta panduan yang dapat diambil dari ayat-ayat tersebut. I. Pemanfaatan Teknologi untuk Pencarian Ilmu Ayat Al-Quran yang pertama yang relevan dengan teknologi modern adalah ayat yang menekankan pentingnya mencari ilmu. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Mujadalah (58:11), "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa d...

Menggali Perspektif Islam tentang "Cewe Friendly": Pertimbangan Mengapa Mereka Tidak Ideal Sebagai Pasangan

Dalam pandangan Islam, hubungan antara pria dan wanita memiliki batasan yang jelas dan prinsip-prinsip yang diatur oleh ajaran agama. Dalam era modern ini, istilah "cewe friendly" telah menjadi populer untuk menggambarkan wanita yang sangat ramah dan akrab dengan banyak pria. Namun, dalam konteks hubungan dan pernikahan, ada beberapa alasan yang menunjukkan bahwa menjadi pasangan dengan seorang "cewe friendly" mungkin kurang baik. Artikel ini akan membahas alasan-alasan tersebut dengan merujuk pada prinsip-prinsip Islam dan pendekatan agama terhadap hubungan antara pria dan wanita. 1. Penciptaan Batasan dalam Hubungan Dalam Islam, terdapat pandangan bahwa hubungan antara pria dan wanita seharusnya didasarkan pada batasan-batasan yang jelas. Sebuah hubungan yang serius dan bertujuan menuju pernikahan seharusnya dibangun di atas dasar saling menghormati, menjaga batasan fisik dan emosional, serta berkomitmen dalam ikatan pernikahan. Wanita yang terlalu ramah dan akrab...

Pandangan Qadariyah dan Jabariyah dalam Konsep Free Will: Perspektif Barat

Diskusi mengenai kebebasan kemauan (free will) dan determinisme telah menjadi topik yang menarik dalam sejarah pemikiran filosofi Barat. Konsep ini juga memiliki keterkaitan dengan pandangan dalam Islam, terutama antara dua aliran pemikiran utama, yaitu Qadariyah dan Jabariyah. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi pandangan Qadariyah dan Jabariyah dalam konteks free will dan bagaimana hal ini dapat dikaitkan dengan pemikiran Barat. 1. Konsep Free Will dalam Perspektif Barat Free will adalah konsep yang menyatakan bahwa individu memiliki kemampuan untuk membuat pilihan dan bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Pandangan ini telah menjadi subjek yang dipertentangkan dalam pemikiran Barat, terutama dalam hubungannya dengan determinisme, yang menyatakan bahwa segala sesuatu, termasuk tindakan manusia, ditentukan oleh sebab-sebab yang mendahului mereka. Dalam tradisi Barat, pemikir seperti Plato, Aristoteles, dan kemudian Augustinus, Thomas Aquinas, Descartes, dan Immanuel ...